Akulah Tulang Rusukmu

9:32:00 AM Edit Artikel



Ketika Dia datang kepadaku dan menghampiriku, hatiku seakan mendapatkan sebuah cahaya bintang yang merasuki tubuhku. Dengan penuh perhatiannya Dia menawarkanku cinta dan sayang. Saat itu Aku tahu, apakah ini yang namanya sebuah cinta....cinta yang sering Aku dengar dari semua orang. Tetapi sepertinya tidak menurutku, ini adalah godaan dari nafsuku dan sama sekali yang Aku rasakan ini tak ada hubungannya dengan yang namanya cinta. Cinta yang sebenarnya menurutku adalah saat dimana hati ini dan jiwa ini dapat bermunajat kepada-Nya. Bertafakur, berdzikir dan dapat bersenandung ayat-ayat Nya dalam setiap hela nafas ini.
Dan mulai saat ini Aku ingin melupakan Dia, Aku tak ingin terlalu merasakannya, menyayanginya semakin dalam. Cukup untuk saat ini saja, dan Aku tidak mau kembali merasakannya. Biarlah atas kekuasaan-Nya kita di pertemukan kembali pada saatnya kelak, itupun jikalau Aku ini adalah tulang rusuknya. Aku akan memfokuskan untuk menuntut ilmu, setelah lulus SMA ini, Aku berencana akan melanjutkan studiku di universitas di semarang. Menjadi seorang guru biologi dan seorang penulis yang solekhah, itulah impianku sejak dulu.Dan Aku yakin dengan tekat yang kuat,Aku dapat mewujudkannya.
“Aisyah, kamu akan melanjutkan kuliah dimana?” tanya Reihan. Aku yang sedang mengerjakan tugas di ruangan kelas sangat kaget, tiba-tiba Dia datang menghampiriku. Aku yang ingin bisa melupakannya, serasa sulit. Karena Aku dan Dia di kelas yang sama, dan pasti secara otomatis  setiap hari Aku bisa selalu bertemu dengan Dia, dan sulit untuk menghindarinya.
“Aisyah?” tanya Reihan kembali. Dan kemudian Aku pun menjelaskan kalau Aku berniat masuk Universitas di Semarang dengan jurusan pendidikan biologi. Dan Dia pun juga bercerita kalau Dia  ingin menjadi seorang guru, dan Dia sudah mendaftar di Perguruan Tinggi di Solo. Saat itu yang ada di fikiranku adalah Solo-Semarang, apakah kelak Aku dan Dia dapat di pertemukan  oleh Allah.....sampai  Aku tak sadar bahwa Ibu Fatimah guru agamaku sudah datang. Akhirnya Aku dan Reihan pun kembali ke bangku masing-masing.
Setelah jam sekolah berakhir, serentak Aku  beserta teman-temanku pun bergegas  beranjak pulang. Tetapi tiba-tiba saja Reihan yang  jabatatannya sebagai ketua kelas, mengingatkan kami, bahwa hari ini kelas kita ada acara untuk bersilaturahim dengan wali kelas kami Pak Zuhrudin. Kemarin istri beliau, yang tidak lain guru kami sendiri juga yaitu Ibu Maymunnah melahirkan anak kedua nya. Yang Aku dengar berjenis kelamin perempuan. Kemudian kami semua pun segera berangkat, begitu pula Aku...Aku  pun mengulurkan niatku untuk pulang.
.Apakah Aku harus naik kendaraan sendirian, sedangkan semua teman-temanku yang lain menggunakan sarana transportasi sepeda motor. Aku pun sempat berfikir untuk tidak ikut,tetapi tiba-tiba saja Reihan datang dan mengajakku ikut bersamanya. Akhirnya dengan hati terpaksa Aku pun ikut dengan Reihan.Motornya melaju sangat kencang, namun Aku tetap menahan hawa nafsuku dan menjaga diriku agar tidak bertempelan dengan nya.
“Jangan cepat-cepat  reihan........”seruku sembari membenarkan jilbabku yang tertiup angin.Ku dengar si Reihan hanya menjawab iya dan Aku lihat di kaca spion Dia juga sempat tersenyum. Jujur saja Aku baru pertama kali di bonceng oleh seorang laki-laki...sungguh sangat risih,tetapi bismillah saja karena ini sangat darurat. Dan Aku pun mencoba menjaga diriku agar tidak bersentuhan dengan Reihan, agar  tidak terjadi fitnah.
“Aisyah, kamu benar mau  kuliah di semarang yah, ambil jurusan apa?” tanya Reihan tiba-tiba. Aku bingung sekali,perasaan tadi pagi Dia sudah menanyakan hal yang sama...kenapa Dia menanyakan kembali.
“Iya, insya allah.Jurusan Pendidikan biologi” Jawabku.Reihan hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.Akhirnya perjalanan pun di lanjutkan, dan setelah kurang lebih 15 menit Kami semua pun akhirnya sampai di tempat Pak Zuhrudin dan Ibu Maymunah.Di tempat Ibu May dan Pak Udin, tak henti-hentinya teman-teman meledek ku dan Reihan......sungguh sangat menyebalkan.Tapi entah kenapa, setiap kali teman-teman mengejek Aku dan Reihan rasanya Aku ingin tersenyum.Begitu pula dengan  si Reihan, Dia hanya tersenyum dan tertunduk malu setiap teman-teman mengejek Aku dan Dia ada hubungan.....Astagfirullah hal adzim.Aku tidak mau berfikir dan mempermasalahkan hal-hal sepele semacam itu,sungguh sangat menyita  waktu ku sendiri.
Hari berganti hari, musim berganti musim, apa yang Aku rasakan pun sekarang berubah. Tak ku sangka, tinggal 3 hari lagi Aku bersama teman-temanku akan akan melaksanakan Ujian Nasional.Memang, ini bukan pertama kalinya Aku mengikuti UN. Tetapi rasanya setiap kali hari itu datang Aku merasa was-was serta ada rasa takut yang selalu membayangi ku. Namun, berkat iman di dada alhamdulillah sampai saat ini Aku bisa melawan rasa itu. Menjadi sebuah tantangan yang harus Aku kerjakan. Insya allah berkat ikhtiar dan tawakal yang Aku kerjakan ini,Aku akan memetik hasil yang sangat manis.
            Detik-Detik Ujian Nasional pun sekarang benar terasa tinggal menunggu beberapa jam lagi Aku akan melaksanakannya. Aku mulai  bersiap-siap berangkat ke sekolah, setelah tadi malam Aku telah berhasil melaksanakan tugasku, Sekarang tinggal berperang.Sebelum berangkat, Aku selalu mencium tangan kedua Ayah dan Ibu ku, dan meminta doa dari mereka. Jika Aku pergi ke luar rumah tidak izin dari mereka,rasanya ada yang kurang dan mengganjal di hati ku.Maka Aku selalu berusaha tidak melupakan meminta restu dari mereka.
“Bu, Yah....Aisyah berangkat ke sekolah ya.Ini hari pertama Aisyah akan melaksanakan UN. Doakan Aisyah ya Bu, Yah?” pintaku sembari mencium kedua tangan mereka.
“Iya, Anak ku....Kami selalu mendoakan mu”Jawab Ibu
Inilah awal kesuksesanku untuk memasuki pintu gerbang impianku.                                    
Setelah sekitar hampir 2 bulan, Aku melaksanakan UN. Inilah tiba saatnya yang semua orang tunggu-tunggu, termasuk Aku. Sebuah selembaran kertas yang sungguh sangat berarti, karena dengan kertas itu Aku bisa mewujudkan impianku bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi .Sebuah kata lulus menjadi penentu cita-cita duniawi.
“Aisyah ,Selamat yah nak kamu lulus dengan mendapatkan nilai tertinggi untuk UN jurusan IPA” ucap Pak Zuhrudin di depan murid dan wali murid di kelas ku. Aku yang saat itu tidak percaya, sungguh ini adalah hari yang terindah bagiku. Ku lihat senyum indah di raut wajah Ayah dan Pak Udin.”Inilah yang Aku tunggu,b isa melihat senyum bahagia dari orang yang kusayangi karena Aku. Ibu ku pun demikian, beliau sangat bangga kepadaku.
Dan keesokan harinya Aku pun mendapatkan sebuah kabar gembira lagi, Aku berhasil masuk Universitas di Semarang dengan jurusan Pendidikan Biologi.
“Alhamdulillah ya Allah.....semua ini karena kehendak-MU”. Ucapku                                                   
            Kini hati yang sedang bahagia sepertinya untuk saat ini tak dapat bahagia, senyum yang biasa menghiasi rona wajahku kini tak sanggup Aku pancarkan. Disaat detik-detik perpisahan kelas XII di sekolahku tercinta. Entah mengapa air mata ini tak sanggup ku bendung, di saat aku dan teman-temanku harus berpisah serta tak bertemu dengan guru-guru  dalam jangka waktu yang tak bisa kami tentukan sendiri. Seolah menjadi bayanganku saat ini, sedih rasanya harus berpisah dengan teman-teman dan guru-guru.
“Hayoo, kenapa Aisyah, kamu nangis.Hmm,,,,pasti kamu sedih karena akan berpisah dengan Reihan yah? “ tanya Laela sahabat ku yang saat itu sedang duduk di samping kanan ku.
“Reihan...? nggak kok, Aku sedih karena akan berpisah dengan teman-teman dan guru-guru di sekolah ini?” jelas ku.
“Ya, termasuk Reihan juga kan Syah?”
Aku hanya tersenyum saja, pertanyaan Laela menyadarkan ku.Bahwa pasti Aku akan sulit ketemu dengan Reihan nantinya. Tetapi jika Allah menghendaki Aku dan Reihan pasti dapat bertemu.Dan acara demi acara pun berlalu, dan akhirnya acara perpisahan kelas XII itu pun berakhir sudah.Semua kelas XII pun bertebaran pulang, tetapi Aku dan Laela masih duduk di kursi kami.
“Hai Syah, kamu tidak pulang?”
Dan ketika Aku membalikkan tubuhku ke belakang, ternyata itu adalah Reihan.
“Reihan? Hmm, Aku nanti pulangnya.”jawabku kaget
“Oh, Aku boleh ngomong sesuatu sama kamu sebentar Syah?” pinta Reihan
Aku bingung, tapi akhirnya Aku pun ikut dengan Reihan. Aku dan Reihan pun sampai di Masjid Al-Hikmah di sekolahan kami.
“Kamu mau ngomong apa Han?” tanyaku bingung
Reihan hanya diam saja, dan kemudian ku lihat tangan kanannya mengambil sesuatu di saku celananya. Entah apa itu Aku sendiri tidak tahu.
“Ini buat kamu Syah?” seru Reihan sembari memberikan sebuah bingkisan berwarna hijau berbentuk persegi panjang dengan ukuran yang lumayan besar.
“Apa ini?” tanyaku bingung.
Tetapi Reihan tidak menjawab dan malah masuk ke dalam masjid. Tanpa memberikan penjelasan tentang apa maksud ia memberi bingkisan ini dan apa isinya. Akhirnya Aku pun pulang dengan membawa bingkisan yang di balut kado berwarna hijau dengan pita-pitanya yang indah.
            Akhirnya dengan sebuah bus kota, Aku pun sampai di rumahku. Dan Aku pun segera membuka apa isi bingkisan yang di berikan Reihan kepadaku ketika di masjid. Perlahan Aku pun mulai membuka pita-pitanya, dan alangkah kagetnya Aku ketika membuka isi di dalam bingkisan itu. Sebuah kotak musik dengan sepucuk surat di bawahnya. Dengan sigap Aku pun mulai membuka amplop surat itu dan membaca isi di dalamnya. Tetapi apa yang ku lihat, hanya sebuah kalimat ”Jika kamu adalah tulang rusukku yang hilang, maka kelak Allah akan menyatukan tulang rusuk mu dengan tulang rusukku.” Kata-Kata itu membuatku tertegun dan merinding.
“Aku tidak menyangka kamu bisa menulis kalimat seperti itu Reihan?” tanyaku
Dan kemudian ku letakkan kotak musik dan surat itu ke dalam laci meja belajarku.
Hari demi hari berlalu, musim demi musim berganti, tak terasa 4 tahun sudah Aku lalui di Kota Semarang. Aku yang saat ini masih menjadi seorang mahasiswa di Universitas di Semarang dengan jurusan Pendidikan Biologi, tak terasa sebentar lagi akan di wisuda. Setelah baru saja kemarin Aku menyelesaikan tugas skripsi ku, insya allah bulan depan Aku akan di wisuda menjadi seorang sarjana.
“Hai Syah, lagi ngapain kamu. Bukannya tugas skripsi kamu sudah kelar yah. Lalu kamu lagi ngerjain apa, serius amat?.” Tanya Mila teman satu asramaku di Pesantren Basmalah
“Bukan skripsi Mil, ini Aku lagi menyelesaikan novel ku.” Jawabku
“Novel yang mana Syah? Novel kamu kan banyak banget?”
“Ini yang tentang sahabat Mil.”
Kemudian Mila pun mendekatiku, dan ia mulai melirik dan membaca kata demi kata yang ku ketik di laptopku. Ya, Mila adalah orang pertama yang selalu membaca karya-karya yang ku tulis. Dan Aku selalu menulis Setiap kali waktu senggang, dan Aku selalu menyempatkan waktuku untuk menulis. Karena itu adalah hobiku, entah sudah berapa banyak karya cerpen, novel dan puisi yang sudah ku selesaikan selama 4 tahun belakangan ini.
Ketika matahari sudah mulai akan tertidur. Aku yang saat itu sedang asyik menulis, tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi. Menandakan ada pesan masuk. Tangan ku pun segera meraih ponsel ku yang saat itu berada di tas. Dan Aku pun segera  membuka isi pesan itu.
“Sms dari siapa Syah?” tanya Mila. Sahabatku yang satu ini memang selalu saja ingin tahu.
“Dari Akhrom Mil,” Ucapku setelah membaca isi pesan itu.
“Oh, pasti suruh kumpul rohis yah?” ucapnya sok tahu.
Aku hanya menganggukkan kepala saja, tanpa berkomentar. Dan dengan sigapnya Aku pun mematikan laptopku dan segera beranjak untuk pergi ke kampus.
“Ya udah, hati-hati ya Syah?”
“Iya Mil...” Jawabku sembari berlalu.
Dengan menggunakan sepeda, Aku pun berangkat ke kampus. Tidak membutuhkan waktu lama Aku pun akhirnya sampai juga di kampus. Disana, Akhrom ternyata sudah menanti.
“Syukur kamu cepat datang Syah?” Sambutnya, dengan wajah penuh beban. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi.
“Ayolah sekarang kamu masuk ke ruang rohis, disana ada percekcokan Syah. Dan jujur, Aku sendiripun tak sanggup menghentikannya.
Mendengar perkataan Akhrom, tanpa basa-basi Aku pun segera meletakkan sepedaku dan berlari ke ruang rohis. Jabatanku sebagai wakil ketua rohis mendampingi Akhrom, membuatku harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dengan organisasi ini.
“Ada apa ini....kenapa semuanya jadi berantakan?” ucapku kaget, ketika melihat buku-buku, kursi dan segala peralatan rohis berserakan disana.
“Ini Syah, Dani...ia membuat keputusan mengenai konsumsi untuk acara mauludan seenaknya sendiri, padahal dia tidak tahu berapa jumlah pesertanya. Akibatnya acara mauludan tadi mengalami kekurangan konsumsi, padahal dananya sudah habis. Ya sudah, tadi anak-anak yang tidak dapat snack pada protes. Acara menjadi kacau.” Jelas Laela
“Kenapa bisa terjadi kayak gini, terus kenapa tidak ada yang menginformasikan ke Aku. Kan Aku bisa bantu kalian?”
“Kami tidak enak mengganggu kamu Syah? Kemarin kamu kan sedang ujian skripsi, terus juga kamu sedang sibuk mengurusi acara rohis di acara tausiyah bulanan. Jadi, kami tidak menghubungimu.” Jelas Dani
“Tidak kawan, ini menjadi tanggung jawabku juga. Jadi tolong, kalau terjadi apa-apa hubungi Aku. Dan, tolonglah jika ada masalah selesaikan dengan musyawarah. Jangan dengan amarah seperti ini”
Akhirnya dengan penjelasanku, mereka pun mengerti. Dan mereka mau bermusyawarah untuk memecahkan masalah ini. Bukan untuk saling menyalahkan satu antar yang lain, tapi koreksilah diri kita apakah sudah baik atau belum.
“Ya sudah, menurutku kita harus meminta maaf kepada peserta yang tidak kebagian snack. Kalau perlu kita ganti uang mereka sejumlah harga snack yang tak dapat mereka terima. Pakailah saja uang kas untuk menggantinya.” Usulku
“Aku setuju..” seru Akhrom dan Laela
Dan akhirnya semuanya sepakat dengan usulanku. Kami pun saling bersalam-salaman. Dan meminta maaf satu antar yang lain.
“Terima kasih ya Syah, dengan kedatanganmu bisa menenangkan suasana” jelas Akhrom
“Sudahlah Khrom, itu tugasku juga kan. Oh ya, Aku izin pulang dulu yah Khrom. Masih ada yang harus ku kerjakan di pesantren.”
“Iya Syah....hati-hati ya.”
“Iya. . . teman-teman Aku duluan yah? Assalamu’alaikum...” seruku sembari melangkahkan kaki ku keluar ruangan.
Aku pun segera cepat mengayuhkan sepedaku, agar segera sampai ke pesantren. Sesampainya disana Aku langsung bergegas mengambil mukenaku dan berangkat ke masjid. Karena hari ini jadwal Aku membantu Ustadzah Nisa mengajar mengaji dan mengajar madrasah untuk adik-adik kelasku.Yah, suatu kehormatan besar Aku bisa membantu beliau, jujur Aku pun sangat mengagumi sosok Ustadzah Nisa yang begitu santun dan solekhah. Di umurnya yang baru menginjak 30 tahun, Ia sudah dapat menghafal 30 juz Al-Qur’an.
“Ustadzah, maaf saya terlambat 10 menit.” Ucapku dengan nafas terengah-engah
“Ya Syah, tak apa.” Jawab Ustadzah Nisa dengan lembut. Beliau memang tak pernah marah, jikalau Aku datang terlambat dan ketika Aku melakukan suatu kesalahan.
Tanpa basa-basi Aku pun segera menempatkan diri, dan memulai mengajar mengaji. Hingga waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Adzan isya pun berkumandang dengan begitu indahnya, menggetarkan hati dan jiwa ini.
“Baiklah adik-adikku, insya allah besok kita lanjut kembali.” Ucapku kepada adik-adik santriwati. Dan kemudian kami semua pun segera mengisi shaf-shaf untuk mengerjakan sholat isya berjamaah, begitu pula dengan Ustadzah Nisa.
“Aisyah, nanti setelah sholat isya bisakah kamu datang ke kamar ku. Aku ingin berbicara sesuatu dengan kamu.” Pinta Ustadzah Nisa yang ada di sebelah kananku.
“Iya, insya allah Ustadzah.”
Akhirnya setelah sholat isya berjamaah, Aku pun segera menepati janjiku untuk datang ke asrama Ustadzah Nisa. Tak membutuhkan waktu lama, Aku pun akhirnya sampai di kamar beliau.
“Assalamu’alaikum Ustadzah Nisa?”
“Waalaikum salam Syah, marilah masuk?” jawab Bu Ustadzah yang ternyata sudah menanti di ruang tamu. Kemudian Ustadzah Nisa mulai bercerita apa maksud mengundangku untuk datang ke kamarnya.
“Aisyah, sebelumnya Aku sangat senang kamu bisa membantu di pesantren ini. Dengan segala prestasi yang telah kamu raih disini, sungguh sangat mengagumkan.”
Penjelasan Ustadzah itu membuatku heran, tak seperti biasanya ia mengatakan seperti itu.Apa mungkin karena sebentar lagi Aku akan lulus dan tidak di pondok lagi. Dan ternyata dugaanku benar adanya.
“Saya, sebenarnya sedih jikalau kamu tidak mengajar dan nyantren disini lagi. Tapi saya akan tetap sedih, kalau kamu tidak bahagia Syah.” Tutur Ustadzah Annisa.
Saat itu juga air mataku berlinang, dan tak kusangka air mata itu menetes ke tanganku. Dan saat itu juga Ustadzah Nisa mendekatiku dan memelukku. Sungguh sangat hangat, tak kan pernah Aku lupakan saat ini.
“Ustadzah...terima kasih, Aisyah sayang sekali dengan Ustadzah. Ustadzah sudah Aisyah anggap seperti keluarga Aisyah sendiri, terima kasih Ustadzah” ucapku
Ustadzah Nisa hanya tersenyum dan mengelus-elus kepalaku. Sekarang jarang Aku  mendapat pelukan dari Ibu. Semenjak Aku kuliah, Aku jarang bertemu dengan Ibu. Dan saat ini Aku seperti merasakan pelukan hangat dari sosok Ibu.
            Ketika ayam mulai berkokok, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Aku mulai beranjak beraktivitas. Karena hari ini adalah hari yang Aku tunggu-tunggu, setelah satu minggu yang lalu ujian skripsi. Kini, akhirnya wisuda sarjana Pendidikan Biologi. Dan di hari ini juga Aku pergi dari pondok pesantren Basmalah untuk kembali ke kampung halamanku di Tegal, setelah 4 tahun Aku belajar di pondok pesantren basmalah. Sungguh sangat tak kuasa, jika harus meninggalkan pesantren ini, karena banyak sekali yang Aku dapatkan disini. Disamping ilmu agama, juga keluarga baru yang sangat Aku sayangi. Tetapi Aku harus tetap pergi demi cita-citaku menjadi seorang guru. Dan bagiku semua yang telah Aku dapatkan disini, tak akan mudah begitu saja hilang dari ingatanku, akan selalu Aku ingat dalam memori ingatanku.
Wisuda berlangsung dengan penuh hikmat, Alhamdulillah juga berjalan dengan sangat lancar. Ketika Aku sedang mengikuti proses wisuda itu di dampingi Ayah dan Ibuku juga teman-temanku, tiba-tiba saja ada petugas keamanan kampus menghampiriku.
“Aisyah, ini ada titipan buat kamu?” Ucap pak Sutarno, selaku petugas keamanan kampus.
“Dari siapa pak?” tanyaku penuh kebingungan.
“Bapak kurang tahu neng Aisyah, Bapak mendapatkan itu dari seorang pemuda. Tapi sepertinya pemuda itu bukan dari kampus ini.” Jelas pak Sutarno
Dengan tergesa-gesa Akupun mulai membaca isi surat itu, dan betapa terkejutnya Aku ketika melihat isi surat itu bahwa itu dari Reihan. Setelah sekian lamanya, Aku dan Dia tidak pernah berkomunikasi. Tiba-Tiba saja Reihan mengirimku sepucuk surat, surat yang berisi menanyakan kabarku. Dan di surat itu seolah-olah Dia tahu kalau Aku baru saja di wisuda.
Setelah membaca surat itu, seketika Aku langsung berlari ke luar gedung Aula. Aku berhara bisa bertemu dengan Reihan, tapi ternyata tidak. Reihan tidak ada, mungkin setelah memberi surat ini Dia langsung pergi.
Kini secara resmi Aku sudah bisa mengajar, memberikan ilmu yang Aku punya kepada orang lain. Dan atas rizki Allah, Aku diberi kesempatan untuk menjadi pengajar di MAN  Pemalang. Sekolahan yang berbasis agama. Sambutan dari staff para pengajar dan siswa-siswi di sekolah itupun sangat baik.
“Bu Aisyah, selamat datang di sekolah kita tercinta ini. Nanti, Ibu akan di bantu oleh salah satu guru disini. Bapak Reihan, meski dia bukan guru biologi saya yakin dia bisa membantu anda untuk lebih mengenal sekolah ini dengan baik” Kata kepala sekolah dengan begitu ramahnya. Mendengar nama Reihan, Aku sangat kaget. Namun yang ada di fikiranku bukanlah Reihan temanku dulu, mungkin kebetulan namanya yang sama.
“Baiklah pak, dengan senang hati. Terima kasih pak,telah menerima saya. Insya Allah saya akan bekerja semaksimal mungkin.”
Keluar dari ruang kepala sekolah, Aku langsung menuju ke ruang kantor. Dan betapa terkejutnya Aku, ketika melihat di depan Aku adalah Reihan. Ya, Reihan teman sekelasku waktu SMA.
“Reihan?” Sapaku sembari mendekatinya
Ia hanya menatapku saja, tanpa menjawab sapaan dariku. Tetapi, kemudian ia pun membalasnya.
“Aisyah ya?” Ucapnya sembari tersenyum menatapku
Aku hanya menganggukkan kepalaku, pertanda bahwa Aku mengiyakannya. Dan sungguh perasaan 4 tahun yang lalu kini terasa muncul kembali. Perasaan kagum ketika bertemu dengannya, tapi Aku tidak ingin dibuat pusing oleh perasaan ini. Dan kemudian kami pun ngobrol-ngobrol di meja kantor ku. Kebetulan meja kantorku dengan Dia bersebelahan.
“Syah, rumahmu masih di Tegal kan? Boleh donk kapan-kapan Aku main ke rumah kamu. Ya, barangkali kan Aku bisa menghitbah kamu.......” Ucapnya
Menghitbah, kata-kata itu membuatku tertegun. Apakah ia bercanda atau ia memang ingin menghitbahku.
“Syah.......Kok diem sih?”
“Ya Allah han, maaf. Oya, Aku ngajar dulu ya....Sudah bel masuk jam ke 2-3 nih?”Ucapku mengalihkan pembicaraan, sembari segera merapikan buku-buku yang harus Aku bawa ke kelas.
Reihan pun hanya diam saja, ia pun juga segera merapikan buku-buku bahan ajarnya.
           Keesokan harinya, ketika Aku sudah berangkat ke sekolahan untuk mengajar, Tiba-tiba saja handpone ku berdering. Tangan kananku langsung bergegas mengambil handponeku di tas dan segera mengangkatnya.
“Halo...Ibu...”
“Halo...Assalamualaikum nak, kamu bisa pulang sekarang tidak?” Ucap ibu
“Waalaikum salam, ada apa bu... Aisyah harus mengajar bu...?” Sanggahku
“Tapi ini tidak bisa di tunda nak, pokoknya kamu harus pulang ya,ini penting sekali. Ibu tunggu...” Ucap ibu sembari menutup telepone
“Halo...Halo...Ibu...Yah, mati..”
Tiba-tiba saja Ibu Selvi selaku WAKA Sekolah datang.
“Kenapa Syah, sepertinya kamu sedang kebingungan?”
“Gini bu, Ibu saja menelpon katanya Saya harus segera pulang. Katanya penting, saya takut ada apa-apa. Saya boleh minta izin sebentar untuk pulang bu. . .”
“Oh, ya sudah sana. Biar nanti tak izinin Syah...”
“Makasih ya bu..” Ucapku sembari segera mengambil sepeda motorku dan pulang kerumah.
Di rumah, Ibu dan Ayahku sudah menyambut kedatanganku. Dan masya Allah...apa yang kulihat disana, yah Reihan bersama keluarganya juga menyambut kedatanganku.
“Reihan. . . ?” Seruku kaget, sembari memberi salam orangtuaku dan orangtua Reihan.
“Nak, ayo masuk. Reihan dan keluarganya sudah menunggu kamu dari tadi loh...?” Ucap Ibuku sembari meraih tanganku, dan mengajakku untuk masuk ke dalam rumah.
Ketika itu Aku masih sangat kebingungan dengan kedatangan Reihan bersama keluarganya di rumahku.
“ Syah, tadi Aku sudah berbicara dengan kedua orangtua Kamu.... “ Kata Reihan tiba-tiba
“Maksud kamu?” Jawabku sangat kebingungan
“Bismilahirohmanirrohim begini Syah, Aku datang kesini ingin menghitbah kamu....dan Insya Allah kamulah tulang rusukku yang selama ini Aku cari. Sejak SMA Aku memang sudah kagum dengan tutur katamu, budi pekerti serta akhlak kamu. Namun, Aku mencoba untuk menahan hawa nafsuku. Keyakinanku saat itu hanya satu, kalau kamu adalah jodohku pasti kita akan di pertemukan oleh Allah. Dan Iatas ridho-Nya kita dipertemukan lagi.” Tutur Reihan panjang lebar
Saat itu Aku hanya terdiam saja, aku kaget mendengar perkataan Reihan. Betapa tidak, Reihan tidak pernah ngomong apapun dengan rencananya ini. Dan tiba-tiba ia datang kerumahku dan ingin menghitbahku.
“Gimana Nduk?” Ucap Ayahku
“Gimana nak Aisyah?” Tanya Ibu Reihan
“Bismillahirrohmanirrohim, Aku menerima khitbahanmu Reihan....Insya Allah, Akulah tulang rusukmu yang selama ini kamu cari” Jawabku
“Alhamdulillahirobil Alamin...” Seru orangtuaku dan orangtua Reihan.
Hari ini adalah hari terindah bagiku, hari dimana Dia mengungkapkannya. Kata-Kata itu yang selama ini Aku tunggu darinya, akhirnya Dia ungkapkan juga. Dan tak berselang lama Reihan menghitbahku, akhirnya ia pun juga menikahiku. Dan kini Aku benar-benar yakin, setelah akad nikah telah terucap bahwa Akulah tulang rusuknya.


Previous
Next Post »
Show comments