Rencana, Takdir

8:22:00 PM Edit Artikel

Andai kamu merasakan bahwa panas terik matahari itu membahang dan kamu sudah tidak tertahan oleh kepanasannya, maka ketahuilah bahwa kedinginan salju itu akan bisa membunuh kerana sifat dinginnya sampai membeku.

Andai kamu merasakan bahwa tanah yang kamu pijak waktu ini kering sehingga kemarau, sehingga kamu tidak bisa dapat bertahan dengannya, maka ketahuilah bahwa hujan bisa menyebabkan terjadinya banjir lalu musnah seperti tsunami melanda.

Andai kamu merasakan bahwa kabus itu kabur, ketahuilah bahwa dia pasti akan menjadi terang sesudah datangnya mentari mencipta tujuh warna pelangi untuk menghiasi cakerawala langit yang indah

Andai kamu merasakan takdir itu kamu yang memilihnya, ketahuilah bahwa takdir itulah yang memilihmu.

Lalu bagaimanakah konsep takdir yang harus bisa kita terima?

Hanya Allah yang memiliki dan mencipta takdir kita. Hanya Allah yang paling terhebat dalam merencana. Apa yang berlaku dalam hidup kita sejak azali lagi merupakan rencana yang sudah direka awal oleh-Nya.

Kita juga punya rencana. Tetapi rencana yang kita cipta bukan untuk diri kita semata. Tetapi untuk menyesuaikan dengan rencana Allah yang sudah lama tercipta buat kita.

Lalu, sekalian takdir sudah memilih diri kita, begitu banyak perbezaannya. Kadang, kita harus menerima apa yang tidak pernah kita minta. Kerana, setiap kejadian sudah terencana.

Dan, rencana kita adalah selayaknya untuk disesuaikan dengan rencana Allah. Bukan hanya untuk diri sendiri, bukan hanya amal di mata manusia. Tetapi, untuk apa lagikah selain untuk redha dari-Nya?

Andai kehidupan ini sudah terencana sepenuhnya lalu dicatat di Lauh Mahfuz, mengapa perlu kita ada rencana sendiri? Mengapa perlu kita disuruh usaha dan bekerja? Bukankah semua sudahpun tertulis dalam rencana Allah? Cuma, kita tidak tahu apa sahaja rencana yang Allah telah lakarkan.

Kamu hanya perlu bayangkan, kalau kesemua takdir kita telah diketahui sejak azali, apalah gunanya hidup ini lagi? Sudah tentu hidup ini tidak enak kerana tak punya 'surprise' yang mengejutkan. Kalau berita gembira datang menerpa, kita tidaklah segembira mana. Kalau berita sedih datang membondong, kita juga sudah pasrah. Kerana kita sudah tahu takdir kita dari awal lagi. Sungguh jelikkan kalau hidup diciptakan begitu? S
udah tentu kita tak mengenal erti usaha, erti cinta. Dan sudah tentulah kita takkan pernah kenal erti pengorbanan.

Begitu juga dengan cinta. Mata yang memandang menimbul rasa cinta. Telinga yang mendengar menimbul rasa cinta. Kebersamaan dengan kerap menimbul rasa cinta. Namun cinta pada Pencipta agak sukar dilaksanakan. Mengapa?

Kerana kita tidak menjadikan cinta itu sebagai kata kerja. Andai kamu mencintai seseorang, kamu bisa mengatakan "Saya tidak cinta dia", kerana cinta itu kata kerja. Andai kamu tidak mencintai seseorang, kamu juga bisa mengatakan, "Saya mencintai dia", kerana cinta itu kata kerja.

Cinta sang sahabat pada Allah dan Rasul-Nya langsung tidak diendah segala lelah, beban, dan derita. Mereka mengerjakannya kerana patuh, taat seadanya. Apa saja yang bakal diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, mereka akan berkata "Kami dengar dan kami taat.." (Q 2:275) dan mereka tidak punya alasan untuk ingkar dan mengeluh

Umar Al-Khattab berkata kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, sungguh aku mencintaimu sepertimana aku mencintai diriku sendiri."

Rasulullah tersenyum kemudiannya berkata; "Wahai Umar, aku seharusnya lebih kau cintai dari diri dan keluargamu."

Lantas Umar menjawab; "Ya Rasulullah, mulai hari ini engkau lebih kucintai dari semua yang ada di dunia ini."

Nah, itulah erti cinta yang didefinisikan oleh sang sahabat. Kerana cinta yang seharusnya dituntut di dunia ini bukan 'perasaan cinta'. Tetapi 'kerja cinta'. Cinta itu sudah meraja di dalam hati. Tapak untuk sang cinta di dalam hati. Maka, tugas kita adalah untuk mengerjakan cinta dan menggerakkannya.


Ya, cinta itu benar-benar indah andai kau bisa mengerjakannya :)
Previous
Next Post »
Show comments